Rotan Melimpah, Kemenperin Genjot Ekspor Furnitur

Ekonomi  SENIN, 11 MARET 2019 | 10:02 WIB

Rotan Melimpah, Kemenperin Genjot Ekspor Furnitur

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto

MoeslimChoice | Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu kinerja ekspor furnitur.

Pasalnya, 80 persen bahan baku rotan dunia berasal dari Indonesia, terutama Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra.

Kinerja ekspor industri furnitur, dalam tiga tahun terakhir ini, memperlihatkan tren yang positif.

Pada 2016, nilai ekspornya sebesar 1,60 miliar dolar AS dan naik menjadi 1,63 miliar dolar AS di 2017.

Sepanjang 2018, nilai ekspor produk furnitur nasional kembali naik 4 persen menjadi 1,69 miliar dolar AS.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, mengatakan, industri furnitur merupakan salah satu sektor strategis dalam menopang perekonomian nasional.

Selain itu, sektor itu juga berperan penting dalam mendukung kebijakan hilirisasi industri karena berbasis sumber daya alam lokal yang terus dipacu nilai tambahnya.

"Kami bertekad untuk semakin memacu kinerja ekspor furnitur. Apalagi, dengan potensi bahan baku yang kita miliki," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (10/3/2019).

Indonesia memiliki sumber bahan baku kayu di Indonesia juga sangat besar, mengingat potensi hutan yang sangat luas hingga 120,6 juta hektare dengan hutan produksi mencapai 12,8 juta Ha.

Potensi ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung ekonomi sekaligus kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu, kata Menperin, pemerintah berupaya mengoptimalkan potensi industri furnitur nasional melalui beberapa kebijakan, antara lain melalui program bimbingan teknis produksi, promosi dan pengembangan akses pasar, serta penyiapan SDM industri furnitur yang kompeten.

"Kami berupaya untuk menciptakan tenaga kerja terampil dan inovatif yang mampu meningkatkan daya saing industri furnitur di dalam negeri," kata dia.

Kemenperin telah memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal (KIK), Jawa Tengah.

Pasalnya, dalam upaya menggenjot daya saing industri furnitur nasional, diperlukan kreativitas dan inovasi desain produk yang mengikuti selera pasar terkini agar mampu kompetitif hingga kancah global.

"Artinya, industri furnitur harus mampu creating the needs, deliver the needs (menciptakan sekaligus memenuhi kebutuhan). Apalagi, kita kaya dengan budaya," ucapnya.

Menperin juga menyambut baik penerapan sistem ganda yaitu 70 persen praktik dan 30 persen teori pada proses pembelajaran di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu.

Sistem dikembangkan Swiss tersebut, diyakini akan menghasilkan lulusan yang benar-benar sesuai kebutuhan masa depan, terutama dalam memasuki era industri 4.0. [yhr]


Komentar Pembaca