Turki Desak China Tutup "Kamp Konsentrasi" Muslim Uighur

Internasional  SENIN, 11 FEBRUARI 2019 | 19:17 WIB | Melati Tagore

Turki Desak China Tutup

foto/net

Moeslimchoice. Turki mengatakan China harus segera menutup fasilitas yang disebutnya sebagai 'kamp konsentrasi' untuk satu juta orang etnis Uighur. Menurut Turki, kamp itu 'sangat memalukan bagi kemanusiaan'.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (9/2), "Bukan rahasia lagi bahwa lebih dari satu juta orang Turki Uighur yang ditangkap secara sewenang-wenang telah mengalami penyiksaan dan pencucian otak politik di kamp-kamp pengasingan dan penjara."

Pernyataan Turki itu menyusul berita tentang dugaan kematian penyair dan musisi Uighur Abdurehim Heyit yang ditahan di salah satu kamp di provinsi Xinjiang, China.

Kantor berita Associated Press melaporkan kematian Heyit tidak dapat dikonfirmasi secara independen. 

Laporan tentang kematian Heyit juga "semakin memperkuat reaksi publik di Turki akan pelanggaran HAM serius di Xinjiang" dan meminta Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres "untuk segera mengambil langkah efektif demi mengakhiri tragedi kemanusiaan" di sana.

Desakan Turki itupun akhirnya mendapat balasan dari China. Satu hari kemudian, tepatnya pada Minggu (10/2) Media pemerintah China merilis sebuah video yang menampilkan seorang musisi etnis Uighur, Abdurehim Heyit yang sebelumnya dilaporkan meninggal dunia di kamp tahanan.

Video yang dirilis China Radio International dalam bahasa Turki itu menampilkan musisi Abdurehim Heyit, yang menyebut dirinya berada dalam keadaan sehat.

Heyit, dalam video itu, juga mengatakan bahwa dirinya "dalam proses diinvestigasi atas tuduhan melanggar undang-undang nasional".

Peluncuran video tersebut berjarak sehari setelah pemerintah Turki mendesak Cina menutup kamp-kamp penahanan etnis Uighur berdasarkan kabar kematian Abdurehim Heyit.

Kedutaan Cina di Ankara kemudian melansir tanggapan dalam lamannya yang menyebut bahwa tudingan Aksoy salah dan mendesak pemerintah Turki mencabutnya.

"Tudingan bahwa pemerintah China berupaya 'menghabisi' etnis Uighur, identitas budaya dan keagamaannya serta umat Muslim lainnya sama sekali tidak berdasar". [bbc/net]


Komentar Pembaca