Pencegahan Demam Berdarah di Ibukota Cuma Seremonial

Kesehatan  KAMIS, 07 FEBRUARI 2019 | 13:19 WIB | Widodo Bogiarto

Pencegahan Demam Berdarah di Ibukota Cuma Seremonial

Foto/ilustrasi

Moeslimchoice. Wabah demam berdarah dengue (DBD) yang tengah menjangkiti DKI Jakarta saat ini membuat provinsi yang dipimpin Gubernur Anies Baswedan itu masuk dalam zona darurat demam berdarah. Apalagi hingga pertengahan Februari 2019, warga yang terserang DBD jumlahnya mencapai 1.000 orang.

Ketua Relawan Kesehatan Indonesia (Rekan Indonesia) DKI Jakarta, Martha Tiana Hermawan mengatakan, meski ibukota dalam kondisi darurat DBD, namun belum ada langkah konkret yang diperbuat Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang dikomandani Widyastuti, dalam rangka penanggulangan bahaya DBD dengan melibatkan peran partisipasi aktif warga.

"Dinas Kesehatan masih fokus dengan upaya kuratif, yaitu bagaimana mengobati warga yang terkena DBD," kata Tiana melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (7/2).

Hal ini ditambah dengan pernyataan Gubernur Anies Baswedan yang menggratiskan 
biaya pengobatan terhadap warga yang terkena DBD. Kondisi ini semakin membuktikan bahwa Dinas Kesehatan masih fokus pada kuratif saja.

"Sedangkan langkah preventif dan promotif tidak digalakkan dan sebatas seremonial saja," ujar Tiana.

"Padahal yang terpenting itu adalah pencegahan dan sosialisasi dengan melibatkan warga untuk bersama-sama Pemerintah DKI berpartisipasi aktif melakukan penanggulangan terhadap bahaya DBD," sambungnya.

Menurut Tiana, Dinas Kesehatan juga belum melakukan terobosan baru dalam melakukan penanggulangan darurat DBD. Dinas Kesehatan dinilai masih melakukan cara-cara kuno dalam penanggulangan darurat DBD.

"Harusnya disosialisasikan apa yang harus dilakukan warga untuk antisipasi DBD. Padahal Kepala Dinas Kesehatan DKI yang baru adalah mantan Kepala Bidang yang menanggani penanggulangan wabah penyakit tapi seperti tidak memahami masalah,"  tegas Tiana.

Menurut Tiana, dalam penanganan DBD, peran serta masyarakat untuk menekan kasus ini sangat menentukan. Misalnya, terhadap Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3 M plus perlu untuk terus dikampanyekan dan dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun terutama pada musim penghujan.

Tiana menjelaskan bahwa Program PSN yang terdiri dari:  
1. Menguras, membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air. 
2. Menutup, menutup rapat-rapat tempat penampungan air 
3. Memanfaatkan kembali/mendaur ulang barang barang bekas yang memiliki potensi menjadi tempat perkembang biakan nyamuk DBD.

Sementara kegiatan 3M Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti: 
1. Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan .
2. Menggunakan obat anti nyamuk . 
3. Menggunakan kelambu saat tidur. 
4. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk. 
5. Menanam tanaman pengusir nyamuk. 
6.Mengatur cahaya dan ventilasi di dalam rumah.  
7. Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk.

Selain itu, juga ada lima langkah pencegahan DBD, yakni: 
1. Bersihkan bak mandi seminggu sekali. 
2. Perhatikan perabotan rumah tangga yang menampung air 
3. Gunakan kasa nyamuk 
4. Jangan menumpuk/menggantung baju terlalu lama 
5. Gunakan lotion anti nyamuk/kelambu.

"Seharusnya dengan digantinya kepala Dinas Kesehatan harus ada tindakan nyata yang dapat dilakukan untuk antisipasi DBD. Bukan hanya kuratif saja dengan tidak memperbaiki kinerja Dinas Kesehatan yang semakin lama semakin buruk," pungkas Tiana. [dodo]


Komentar Pembaca
Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019 | 21:00

KPU: Stop Katakan Kami Curang

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019 | 19:00

Real Count KPU Lambat!

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019 | 17:00