Kaitan Istiqomah dan Keimanan

 JUMAT, 15 DESEMBER 2017 | 06:58 WIB

Kaitan Istiqomah dan Keimanan

Moeslimchoice. Sesunguhnya nikmat Allh Swt kepada hambaNya tidak terbatas. Di antara nikmat yang paling besar adalah nikmat iman dan Islam. Demikian juga nikmat istiqomah di atas iman. Hal ini ditunjukkan oleh hadits di bawah ini:

Dari Sufyan bin Abdullh ats-Tsaqafi, ia berkata: Aku berkata, "Wahai Raslullh, katakan kepadaku di dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun setelah Anda!" Beliau menjawab: "Katakanlah, 'aku beriman', lalu istiqomahlah". (HR Muslim, no. 38; Ahmad 3/413; Tirmidzi, no. 2410; Ibnu Majah, no. 3972).

Makna Istiqomah

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah (wafat tahun 795 H) menjelaskan makna istiqomah dan kedudukan hadits ini dengan mengatakan: "Istiqomah adalah meniti jalan yang lurus, yaitu agama yang lurus, dengan tanpa membelok ke kanan atau ke kiri. Dan istiqomah mencakup melakukan semua ketaatan yang lahir dan yang batin dan meninggalkan semua perkara yang dilarang. Maka wasiat ini mencakup seluruh ajaran agama".

Dari penjelasan di atas maka diketahui bahwa ukuran istiqomah adalah agama yang lurus ini. Yaitu melakukan ketaatan sebagaimana diperintahkan dengan tanpa melewati batas, tanpa mengikuti hawa-nafsu, walaupun orang menganggapnya sebagai sikap berlebihan atau mengurangi.

Allh Taala berfirman yang artiny: "Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan". (QS.Hd/11:112).

Allh Ta'ala juga berfirman: "Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan istiqomahlah (tetaplah dalam agama dan lanjutkanlah berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allh dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allh-lah tuhan kami dan tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu, tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allh akan mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah tempat kembali (kita)". (QS. Asy-Syura/42:15).

Istiiqomah Hati dan Anggota Badan

Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: Pokok istiqomah adalah istiqomah hati di atas tauhid, sebagaimana penjelasan Abu Bakar ash-Shiddq dan lainnya terhadap firman Allh yang berbunyi:Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allah" kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka". (QS. al-Ahqaf/46:13]. (Yaitu) bahwa mereka tidak berpaling kepada selain-Nya. Ketika hati telah istiqomah di atas marifah (pengetahuan) terhadap Allh, khasyah (takut) kepada Allh, mengagungkan Allh, menghormati-Nya, mencintai-Nya, menghendaki-Nya, berharap kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, tawakal kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya; maka semua anggota badan juga istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya.

Karena hati merupakan raja semua anggota badan, dan semua anggota badan merupakan tentara hati, maka jika raja istiqomah, tentara dan rakyatnya juga istiqomah.

Demikian juga firman Allh yang berbunyi: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allh". (QS.ar-Rm/30). Ayat ini di tafsirkan dengan memurnikan niat dan kehendak bagi Allh semata, tanpa sekutu bagi-Nya.

Setelah hati, maka perkara terbesar yang juga dijaga isitqomahnya adalah lisan, karena ia merupakan penterjemah hati dan pengungkap (isi) hati. Oleh karena itulah setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan istiqomah, beliau mewasiatkan untuk menjaga lisan.

Di dalam Musnad Imam Ahmad dari Anas bin Mlik , dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , beliau bersabda: Iman seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga hatinya istiqomah. Dan hati seorang hamba tidak akan istiqomah, sehingga lisannya istiqomah. Dan orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatan-kejahatannya, tidak akan masuk surga. (HR Ahmad, no. 12636, dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin, 3/13).

Disebutkan dalam Tirmidzi (no. 2407) dari Abu Said al-Khudri secara marfuu dan mauqf: Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan: "Takwalah kepada Allh di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqomah, maka kami juga istiqomah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (HR Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun-Nazhirin 3/17, no. 1521).

Keutamaan Istiqomah

Istiqomah tidaklah mudah. Namun seorang hamba akan mendapatkan semangat di dalam istiqomah dengan mengetahui keutamaannya. Allh Taala berfirman memberitakan keutamaan besar yang akan diraih oleh orang-orang yang istiqomah: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allh" kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allh kepadamu". (QS. Fush-shilat/41:30).

Di dalam ayat yang lain Allh Taala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rabb kami ialah Allh", kemudian mereka tetap istiqomah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-Ahqf /46:13-14).

Istigfar Melengkapi Istiqomah

Manusia pasti memiliki kekurangan. Manusia tidak akan mampu melaksanakan agama ini secara menyeluruh dengan sempurna. Oleh karena itulah Allh Taala memerintahkan istighfar setelah memerintahkan istiqomah.

Allh Subhanahu wa Taala berfirman: "Katakanlah: Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka istiqomahlah (tetaplah pada jalan yang lurus) menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya. [QS. Fush-shilat/41:6].

Iman Ibnu Rajab berkata: Di dalam firman Allah maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya, merupakan isyarat bahwa pasti terjadi kekuarangan di dalam (menjalankan) istiqomah yang diperintahkan, maka diperbaiki dengan istighfar yang mengharuskan taubat dan ruju menuju istiqomah.

Sebab-Sebab Istiqomah

Sesungguhnya sebab-sebab istiqomah sangat banyak. Diantara sebab-sebab terpenting yang menjadikan seseorang istiqomah di jalan Allh Taala ialah sebagai berikut:

1. Merenungkan al-Qur'an.

2. Mengamalkan agama Allh.

3. Doa.

4. Dzikir.

5. Pembinaan iman.

6. Meneladani Salafush-Shlih dan ulama yang istiqomah.

7. Mencintai Allh dan Rasul-Nya melebihi yang lainnya.

8. Mencintai dan membenci sesuatu karena Allh.

9. Saling berwasiat dengan al-haq, kesabaran, dan kasih-sayang.

10. Meyakini masa depan bagi agama Islam.

Inilah sedikit penjelasan tentang istiqomah, semoga bermanfaat.Wallahu A'lam Bishawab

Oleh: Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari


Komentar Pembaca